[Ini cerpen didedikasikan untuk temanku Tika yang menjalani terapi mental karena galau, hehehe... Semoga mendapat jawaban dari Allah SWT atas kegalauan kamu, teman.. ^^]
SIA oleh Viska
Nurisma
|
S
|
ejak
aku bekerja dan dia meneruskan kuliah di IPB, itulah mengapa kami tak pernah
bertemu dan berkomunikasi, walau angin berbisik, ‘tanyakan kabarnya,’ aku tak
ingin. Hingga suatu malam yang dingin mengusikku dengan tanyanya, membuatku
teringat bagaimana dia dulu, membuatku teringat bagaimana langit membungkuk
pada ketulusannya.
Bagaimana aku bisa berfikir untuk mengiriminya pesan
bahwa aku mengaguminya, seperti gunung yang tetap berdiri menghadap matahari,
aku tak punya malu; ia tak bisa sembunyi dengan memalingkan wajahnya, begitu
pun aku. Ah! Toh dia adalah teman
dekatku sewaktu SMA, walau kedekatan kami ditarik oleh aura yang mengharuskan
kami bercengkrama.
Aku
shock.
Kalimat yang paling kuingat dari sederet pesannya. Kalimat
itu terus mengelilingi kepalaku, berjalan melewati syaraf-syaraf dan berujung
pada logikaku ‘bodohnya aku’. Hey! Dia teman lama. Dia teman SMA. Teman saat
ada acara sekolah menyibukkan kami, teman saat guru ceramah dan kami berulah,
teman bermain. Teman bermain? Ya, teman bermain sewaktu SMA.
Pandanganku berbeda sekarang.
* * *
Perkuliahan dimulai setelah libur yang tak seberapa
panjang, hari pertama aku menuangkan segalanya tentang dia pada temanku. Nama
itu Willy. Tak ada maksud kebarat-baratan, tapi itulah namanya. Tak ada yang
spesial darinya. Dia tak seindah artis Korea yang segar-segar dan bening. Dia
tak sepintar Albert Einsten yang bisa menciptakan rumus dasar energi. Dia juga
bukan pecinta olahraga seperti Christiano Ronaldo yang bias berulang kali
pindah tim karena keahliannya. Dia hanya seorang mahasiswa IPB sekarang dan dia
teman SMA-ku dulu.
Dari ketidaksengajaan melihat namanya tersimpan
dalam kontak handphone, berniat
memastikan apakah namaku masih terukir di sudut handphone-nya. Aku mengiriminya pesan yang aneh, Shakespeare pun
perlu bertapa untuk mengerti maksudnya. Lalu, dia menjawab pesanku dengan
segelas madu segar: manis. Singkatnya pesan itu, berhasil membuat hatiku
terikat oleh rantai pesonanya. Tidak, dia tidak memesona. Dia indah. Dia
seperti burung cendrawasih yang terbang di cakrawala senja. Dari jauh, tak akan
ada yang menyadari keindahannya, tapi dari dekat tak akan ada yang bisa
memungkiri ketakjuban warnanya.
Aku jatuh cinta detik itu juga.
Entah serbuk apa yang bertabur menyelimuti hatiku.
Ia terasa meledak-ledak bercahaya seperti kembang api tahun baru.
Seandainya kuliah ini mengajariku untuk bertindak
sebagai peri cinta yang mengintainya, bahkan di lorong semut sekali pun. Aku
tidak belajar mikrobiologi umum untuk mengidentifikasi mikroba apa yang bisa
membuatnya jatuh cinta padaku. Aku tak belajar fisika dasar untuk menghitung
berapa jarak dan waktu yang diperlukan untukku mencari perhatiannya. Aku tak
belajar kimia dasar untuk membuat ramuan cinta yang manis untuknya. Seandainya
perkuliahan ini bisa mengajariku bagaimana cara mendapatkan hatinya yang sejuk
seperti embun pagi yang segar. Seandainya perkuliahan ini bisa mendekatkan
hatiku pada hatinya yang hangat seperti matahari pagi. Seandainya perkuliahan
ini bisa membawanya berdiri tepat di pelupuk mataku seperti pangeran tampan
berhati mulia dalam cerita Putri Salju.
Mimpi. Kuliah tidak seperti itu.
* * *
Di tengah ocehan dosen Bahasa Inggris Profesi,
pendingin ruangan pun tak mampu mendinginkan hati kami para mahasiswa yang
terbakar aura bundarnya matahari. Handpone-ku
bergetar sekali.
Sabtu kuliah?
Pesan dari Willy.
9 Ujian.
Mau keluar?
9 Keluar?
Aku ingin bertemu dan ngobrol sama kamu.
9 Kamu jauh di sana.
Kalau aku ke Lampung, mau?
9 Mau. ^^ Kamu di Lampung?
Kamis sore aku pulang.
9 :)
See you. ^^
Tunggu. Ini pasti mimpi.
Sebentar. Apa yang telah dilakukannya? Ada morfin yang meracuni otaknya-kah?
Ada akar beringin yang menggantikan posisi neuronnya-kah? Apakah dia hanya
ingin membuatku senang? Membuatku terbang melintasi langit yang bergumam, lalu
jatuh menembus bumi yang berayun membingungkan? Mungkin dia bercanda. Mungkin
dia merindukan hirauan teman lama yang sempat terkubur dalam dinasti waktu.
Tapi, haruskah candanya sedemikian kejam, membuatku sangat senang dengan segala
kemanisannya? Aku tidak boleh berprasangka buruk. Lalu, prasangka apa yang
harus kupasang di otakku ini tentangnya? Segalanya menjadi tidak logis. Ini
hari Kamis. Besok, Jum’at. Sabtu, Minggu, Senin lagi. Kuliah lagi. Begitu
dekatnya-kah Bogor dengan Lampung? Sejengkal-kah jaraknya? Atau berkedip pun
akan sampai di mataku? Tidak.
“Tunggu dia besok... Ini bukan
mimpi.”
Temanku menegaskanku, membuat
ocehan dosen itu terdengar lagi menyelundup ke telingaku. Tunggu, ya? Aku harus
menunggunya? Menunggu, ya? Baiklah, aku tunggu.
Sampai kapan?
* * *
“Dia benar-benar mengajakku
bertemu.”
“Kapan?”
“Besok.”
“Di mana?”
“Entah.”
Entah? Ya, dia bilang ingin
bersua denganku, tapi dia tak menyebutkan bagaimana cara kami bertemu nanti
secara spesifik. Apakah dia akan menjemputku di kampus? Dia tidak bilang.
Apakah aku harus menemuinya di suatu tempat? Dia tidak bilang. Apakah dia akan
menemuiku di rumah? Dia juga tidak bilang. Apakah aku harus menunggu semua
ketidakpastian ini dijawabnya? Itulah yang terjadi sampai detik kesemuanya
sirna dengan sia.
Aku menunggunya sejak matahari
bersiap menyombongkan diri berdiri di atas hiruk pikuk kegalauan manusia sampai
ia lelah dan menguap, lalu cuci kaki sikat gigi dan menyongsong peraduannya.
Maaf,
aku ketiduran.
Oh, mungkin dia lelah setelah
perjalanan panjang itu.
Mungkin,
kita harus menunda ini sampai besok.
Oh, mungkin dia lelah setelah
tidurnya itu.
Hari Sabtu ini pun berakhir
dengan sia, setelah menantikan senyumnya membangkitkan tegangan listrik dalam
muatan partikel penyusun suasana hatiku, tidak. Semuanya sia dan dia tidak akan
muncul dengan senyumnya itu.
* * *
Kamu
di mana? Aku di kampus kamu sekarang.
Pesan itu cukup membuatku terbelalak
dengan mata yang tak seberapa ini keesokan harinya. Hari ini adalah hari
terakhir kunjungannya ke Lampung, tanpa dasar. Dan dia sama sekali belum
memenuhi janjinya untuk bertemu denganku, entah dengan alasan apa. Keadaan ini
membuatku berprasangka seburuk mungkin terhadapnya, bahwa dia hanya ingin
mempermainkan aku karena dia tahu aku menyukainya. Bahwa dia hanya akan
menerbangkanku ke udara bebas tanpa kontaminasi karbondioksida, lalu dihempas
ke angkasa luar yang tidak mengandung udara sedikit pun untukku bernapas. Aku
kesal, ingin merobek wajahnya dan kuganti dengan wajah lain agar tidak ada lagi
Willy yang seperti itu.
Namun, sekarang dia bilang dia
telah berada di kampusku. Atas dasr apa dia datang begitu saja?
9 Kamu di mana sekarang?
Di
lapangan bola.
Demi apa dia ada di lapangan bola
sekarang? Mengapa dia datang ke lapangan bola? Jam berapa ini? Sejak kapan dia
di sana? Hey, aku kuliah! Sial.
Kesialan lain: gerimis. Entah
siapa yang mengundang gerimis ini, sampai-sampai dia datang berama-ramai. Aku
jadi khawatir.
Hari ini kuliah dengan jadwal
penuh hingga sore pukul 17.00 WIB. Bisanya dia datang ke kampus tanpa
memberitahuku? Bisanya dia mengirimiku pesan dia di sini seolah aku ingin
sekali bertemu dengannya? Apakah dia bermaksud membuat kejutan dengan datang tiba-tiba
dan berkata’hei! Aku di sini!’? Apakah dia bermaksud berkorban menemuiku di
tengah hujan gerimis yang galau seperti ini? Jika dia sakit nanti, salahkukah?
Padahal sore ini dia harus kembali ke Bogor. Aku harus bagaimana?
“Temui dia. Kasihan… Jauh-jauh
dari Bogor ‘kan cuma mau ketemu kamu,” temanku berulang kali
mendorongku berpikir ulang.
Yang benar saja? Aku terlanjur
berprasangka yang bukan-bukan tentangnya. Sikapnya padaku Sabtu lalu membuatku
berasumsi kalau dia hanya ingin bertemu denganku, ‘hanya ingin bertemu’, bukan
‘sangat ingin bertemu’. Ah, seharusnya aku tidak senang dulu. Seharusnya aku
tak berfikir dia merespon perasaanku. Bodoh sekali aku, bodoh!
“Ayo, temui dia. Sebentar lagi
dia balik ke Bogor, nanti kamu menyesal,” temanku mendorongku lagi.
Atas dasar apa aku menemuinya? Toh, dia tak berniat menemuiku. Dia
hanya ingin bertemu, itu saja. Tak bertemu pun tak apa, ‘kan? Tapi, untuk apa dia datang ke Lampung dalam tempo waktu
seperti ini dan bolos kuliah dua hari? Tidak mungkin jika dia hanya ingin
bertemu denganku. Mungkin dia ada urusan lain yang lebih penting. Tapi, mengapa
saat kutanya apakah dia mau bertemu dengan teman-teman lama kami sewaktu SMA,
dia tak menjawab? Apa dia tak mau? Tapi, mengapa dia mau menemuiku? Aku juga
dulu teman SMA-nya, ‘kan? Aku ini
juga bukan siapa-siapa dia, ‘kan?
Ah, semuanya berputar-putar.
“Ayo, putuskan sekarang. Mau
menemuinya atau tidak? Dia menunggu di sini dari tadi, lama. Kasihan dia. Kalau
tidak mau bertemu ‘kan dia bisa pulang. Setelah ini juga dia harus kembali ke
Bogor. Mau menemuinya tak?”
“Tidak.”
“Yakin?”
Aku mengangguk. Maafkan aku,
Willy. Aku tak bisa lagi. Kalau dia memang berniat menemuiku, dia pasti
berusaha lebih dari ini. Dia pasti tidak keberatan menjemputku di gedung
fakultas, walaupun banyak mahasiswa lain yang masih berlalu-lalang, bukan
menyuruhku menemuinya di lapangan bola. Maafkan aku, tapi aku terlanjur
berfikir negatif tentangmu dan aku tak ingin merasa bahwa aku terlalu senang
dengan responmu padaku, tidak. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa kita adalah
teman. Teman lama. Teman baik. Teman SMA. Sekarang kau telah kuliah di IPB, di
seberang sana, jauh dari Lampung, dan pasti memiliki kehidupan baru yang lebih
baik. Harusnya aku sadar bahwa aku terlalu jauh bermimpi. Aku tinggal di Lampung,
inilah ruang lingkupku. Ah, harusnya aku tak bilang padanya kalau aku kagum.
Sial. Banyak sekali hal yang kusesali.
Aku
pulang, ya..
Akhirnya kalimat itu muncul di
layar handphone-ku. Cuaca masih
hujan. Apakah dia baik-baik saja? Masih terbesit kekhawatiran. Mengapa aku
harus mengkhawatirkannya? Aku ‘kan
bukan siapa-siapa dia. Tidak, aku sungguh khawatir. Setelah ini dia akan
kembali ke Bogor dan waktu beberapa hari yang tak seberapa ini berujung dengan
sia, tanpa pertemuan manis kami, semanis pesanmu padaku. Padahal, sesungguhnya
aku sangat berharap.
Jam perkuliahan benar-benar
berakhir pukul 17.00 WIB. Bayangan seorang Willy langsung melintas kembali di
pikiranku begitu aku keluar dari ruang kuliah yang penat, membuatku menyesali detik-detik
yang berlalu dengan sia hari ini. Dia sudah kembali ke Bogor. Mungkin belum
sampai, tapi aku tak mungkin bertemu dengannya. Apakah dia baik-baik saja?
Selalu pertanyaan itu yang terbesit kembali. Tak ada yang lain?
“Coba di-SMS Willy itu,” tiba-tiba
saja temanku ini menyarankan hal yang hampir mustahil.
Memang, sejak tadi handphone ini kuputar-putar. Mungkin dia
sudah muntah-muntah karena pusing jika bisa. Gerimis pun tak mau mengalah,
masih datang beramai-ramai. Tak bisakah datang sendiri? Menambah kegalauanku
hari ini. Aku tak ingin berakhir seperti ini. Aku tak ingin hubungan kami
menjadi buruk hanya karena kegagalan pertemuan kami ini. Aku merasa bersalah
sekarang.
Mungkin aku harus benar-benar
menghubunginya untuk memastikan keadaannya. Aku tak boleh egois.
“Telepon, jangan di-SMS. Lama.”
Kuturuti saran temanku itu dan
aku benar-benar menelponnya.
“Halo?”
“Willy mana?”
“Ini Willy”
“Ini Willy?”
“Iya.”
Mengapa suaranya berbeda? Suara
siapa ini? Suara Willy tak seperti ini.
“Halo?”
“Ini benar Willy?”
“Iya. Kenapa?”
“Kok suaranya beda?”
“Tapi, bener kok.”
“Oh, ya udah. Gak papa.”
Kututup teleponnya. Lho? Mengapa
pembicaraan itu kuputus? Aku ‘kan mau
minta maaf atas kejadian hari ini, aku mau bilang mengapa aku tak menemuinya.
Tapi, suara itu seperti bukan suara miliknya, membuatku tak yakin untuk
mengucapkan sepatah kata pun permohonan maaf.
Ah, mengapa semuanya berakhir
seperti ini? Semuanya berakhir dengan sia. Hanya tersisa penyesalan sekarang.
Seharusnya aku menemuinya tadi. Tidak,
tidak. Suruh siapa menunggu di lapangan bola? Mungkin dia malu kalau harus
menjemputku di fakultas. Tapi, dia kan
pakai helm. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Semuanya terlanjur berakhir
seperti ini. Setidaknya aku bisa mengiriminya pesan bahwa aku minta maaf.
Kesimpulannya, semua sia-sia.
Rencana dia dan aku berakhir sia. Waktu yang dia korbankan untuk datang ke
Lampung dengan mengambil jatah bolos pun berakhir sia (memangnya dia datang
untukku?). Yang jelas, aku tak sempat melihatnya tersenyum. Sementara perasaan
ini terhadapnya, terlanjur bersemayam. Di sini. Di hatiku.
*END*