Tittle: Ruinous MorningAuthor: Saya (@viskaaaaa)
Main Cast: BaekYeol
Other Cast: Member EXO yg minta upah nongol(?)
Genre: Comedy gagal *krriikk.. krriikkk.. -_-
Length: Oneshoot
Suasana damai tengah menyelimuti dorm EXO yang
tenang. Matahari pagi bersinar hangat sekali dinaungi langit biru yang bersih. Suara
musik yang berasal dari ruang latihan pun terdengar lirih di mana seorang Kai
tanpa hentinya menikmati musik itu sambil menari, di sisi ruang latihan yang
lain, Chen dengan semangat berlatih vokal tanpa lelah. Di ruang tengah tampak
sang Leader (Suho dan Kris) menonton TV berdua dengan secangkir teh hangat
mengepulkan asapnya di hadapan mereka di atas meja. Tao mengangguk-angguk
bersama headphone seraya mengaransemen lagu di pojok ruangan tanpa gangguan.
Sesekali terdengar gelak tawa di luar dengan teriakan-teriakan senang di mana
Xiumin dan Luhan bermain bola ditemani si magnae Sehun. Di dapur, D.O eomma
dengan Lay sibuk menyiapkan sarapan pagi yang hampir selesai. Tak ada seekor
lalat pun yang mengusik kenyamanan pagi itu, tanpa beban jadwal-jadwal
menyesakkan, tanpa ocehan-ocehan dan teriakan-teriakan, segalanya terasa
sempurna.
BRAAAKKKKK!
Tiba-tiba saja terdengar keributan yang membahana
sampai jalan raya, membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara.
“Ya! Aku bilang aku tidak mau!” terdengar teriakan.
Semuanya terusik sekarang, ketenangan itu mulai memudar diiringi teriakan lain
yang menyusul.
“Mwo? Kau kan tidak bilang apa-apa tadi! Hanya pesan
dibelikan es krim! Kau tidak bilang mau rasa strawberry segala!”
“Tapi kau kan tau aku suka strawberry!”
“Aku lupa! Sudah! Makan ini saja!”
“Tidak mau! Itu pisang!”
“Memangnya kenapa dengan pisang?! Kan masih
sama-sama es krim!”
“Pokoknya aku tidak mau!”
“Kau!”
Kini semua tau siapa yang menghancurkan kedamaian
pagi itu. Dengan wajah tidak peduli, mereka melanjutkan aktivitas masing-masing
mereka tadi, karena hal seperti ini bukanlah Kejadian Luar Biasa, tapi Kejadian
Sudah Biasa. Sepuluh menit lagi juga berakhir. Tapi, ternyata mereka semua
salah.
Tiba-tiba api menyembur keluar ruang kamar di mana
keributan itu berasal. Suho yang terkejut tiba-tiba saja mengeluarkan air,
membuat semuanya semakin berantakan. Ini tidak bisa dibiarkan!
Suho bangkit dari sofanya, melupakan acara TV yang
tanpa bersalah tertawa-tawa dengan secangkir teh hangatnya yang masih terus
mengepulkan asap menggoda. Tidak, itu tidak menggoda lagi sekarang. Belum
sampai di pintu ruang kamar, tiba-tiba saja Chanyeol dan Baekhyun keluar kamar
diiringi cahaya-cahaya terang dengan semburan api yang ganas, yang secara tidak
sengaja menyambar makanan sarapan pagi di atas meja.
“Masakanku…,” D.O eomma berkaca-kaca. Lay mengelus
punggungnya dengan tenang.
“Nanti kita buat lagi, yaa…,” Lay hyung mencoba
menghibur, namun D.O terlanjur menangis.
Tanpa rasa bersalah, Chanyeol dan Baekhyun masih
melanjutkan pertengkaran mereka yang mengacaukan semua. Suho semakin geram,
Kris juga.
“Ya! Tidak bisakah kau hargai aku sedikit?!” mata
Chanyeol berapi-api karena kemarahannya (tapi matanya tidak keluar api).
Sesekali tangannya mengelurkan api, tapi ia hempaskan ke arah lain karena tidak
ingin melukai Baekki yang sedang ngambek di hadapannya ini, menyebabkan keadaan
semakin parah.
Di sisi lain, di halaman dorm, entah mengapa Luhan
dan Xiumin masih asyik bermain bola diiringi teriakan Sehun sesekali,
menyemangati mereka. Merasa lelah, Luhan dan Xiumin merebah di tanah berumput
yang hijau.
“Menurutmu, keributan itu kapan berakhir?” terengah,
Xiumin membuka cengkrama di halaman dorm yang belum terusik semua kekacauan.
“Sepuluh menit,” jawab Luhan asal.
“Ah, itu terlalu sebentar.. Setengah jam.”
“Tapi, mereka biasanya tidak pernah selama itu
bertengkar. Kalau musuhan sih mungkin.”
“Mau bertaruh? Aku tiga puluh menit.”
“Kalau aku menang?”
“Akan kupijiti semalaman.”
“Tidak, jangan itu. Sudah ada Sehun-ah yang
menemaniku,” Luhan melirik ke arah Sehun dan dibalas dengan senyum manis.
“Ah.. Aku akan membelikanmu baju CR7 lengkap sama
sepatunya.”
“Yang benar?” mata Luhan berbinar senang.
“Iya. Tapi, kalau aku menang, kau harus traktir aku
sebulan.”
“Hah?? Kau kan harus diet, hyung..”
“Hanya kita berdua yang tau. Deal?”
“Baiklah.”
Mereka membuat kesepakatan dengan berjabat tangan.
“Luhan hyung!” Sehun memanggil dari tepi halaman
seraya menggoyangkan botol minum, tidak ketinggalan senyumnya yang manis.
Luhan langsung beranjak seraya berlari-lari kecil
menghampiri Sehun. Selangkah lagi sampai, tiba-tiba api menyambar botol minum
di tangan Sehun, membuat Luhan terkejut. Sehun pun menangis. Ternyata Chanyeol
dan Baekhyun sudah sampai di luar. Luhan mengelus bahu Sehun supaya tenang.
“Mengapa kau tidak pernah ingat hal sekecil itu?!”
Baekhyun marah-marah seraya menghempaskan cahaya terang ke arah Chanyeol.
“Aku lupa! Aku juga tidak mau lupa, tapi kan namanya
juga lupa!”
“Alasan!”
“Kau yang tidak pernah mau memaklumi aku!”
“Hah! Memaklumi apa?! Itu namanya kebiasaan buruk
yang harus dirubah, bukan untuk dimaklumi!”
“Semuanya kan terjadi Wallahualam.”
“Halah.”
“Seharusnya kau yang harus belajar menghargai aku!”
api yang besar keluar dari tangannya yang kokoh, tapi lagi-lagi ia hempaskan ke
arah lain, membuat tanaman di sekitar halaman terbakar. Xiumin yang menyadari
hal itu langsung membekukannya, tidak lupa Suho ikut membantu memadamkan api di
mana-mana.
“Mengapa hal sekecil ini kau besar-besarkan?!”
“Ini bukan hal kecil! Kalau dibiarkan, kau tidak
akan pernah sadar!”
“Tapi, kau yang memulai semua kekacauan ini!”
“Enak saja. Kau yang mulai! Kalau kau tidak salah
membelikanku es krim, aku tidak akan semarah ini!”
“Aku kan bisa menggantinya.”
“Terlambat! Kau kan paksa aku makan es krim pisang
itu tadi!”
“Itu agar kau mau hargai aku sekali ini saja.”
“Halah!”
“Lagipula kau makan dengan gratis, aku yang bayar!”
“Itu kan janjimu! Tidak usah bahas yang lain!”
“Lho?! Aku tidak bahas yang lain!”
Pertengkaran semakin hebat. Api ada di mana-mana,
cahaya menyambar-nyambar menyilaukan semua mata alien tampan di daerah itu,
kecuali tentu saja Baekhyun. Tak ada yang berani mendekati mereka, takut
terbakar atau apalah. Tao yang tidak tahan dengan semua kekacauan ini ingin
sekali menghentikan semuanya, tapi kalau ia hentikan waktu saat itu juga, siapa
yang akan membantunya membereskan semuanya? Tidak, ia tidak bisa melakukannya
sendiri. Akhirnya ia kembali dengan headphone-nya walau ia tau semuanya akan
semakin kacau.
Suho lelah memadamkan semuanya. Akhirnya, ia menyemburkan
air ke arah Chanyeol dan Baekhyun hingga basah.
“Ya! Tidak bisakah kalian berhenti?! Ini masih pagi
dan kalian mengacaukan semuanya!”
Chanyeol dan Baekhyun bertukar pandang.
“Mianhae, hyung.. Aku tidak bisa,” Baekhyun
mengarahkan cahaya (yang frekuensinya lebih kecil dari cahaya-cahaya
sebelumnya) ke arah Suho hyung dan membuat Suho hyung terjatuh. Lay langsung
menghampirinya.
“Kau!” Chanyeol benar-benar marah.
“Apa?! Mengapa kau tak menyerangku, hah?!”
“Kau akan menjadi Bacon bakar jika kuserang!”
“Hah? Haha. Kau pikir semudah itu?!” Baekhyun
mengerahkan cahaya yang sangat terang kali ini ke arah Chanyeol, membuat
Chanyeol jatuh tersungkur di tanah.
“Tidak bisakah kau maafkan aku kali ini?”
“Kau sudah berulang kali kumaafkan!”
“Es krim itu…”
“Aku tidak mau es krim rasa pisang! Aku berasa
monyet kalau memakannya!”
“Apa?! Jadi kau menghinaku?!” (author minta maaf,
oppa.. T.T)
“HENTIKAAAANNN!!!!”
Tiba-tiba saja angin kencang berhembus dari
mana-mana. Wajah Sehun berubah mengerikan sekarang. Ia benar-benar lelah
menyaksikan semuanya, apalagi moment paginya yang syahdu(?) terusik dengan
tidak indah. Luhan yang ada di sampingnya menjadi khawatir.
“Sehun-ah, tenangkan dirimu…,” Luhan membelai
punngung Sehun dengan lembut.
“Aku tidak bisa, hyung! Mereka mengacaukan
segalanya!”
“Tapi, jangan seperti ini. Sehun-ah…”
“Botol minumku untukmu hangus gara-gara mereka…,”
kali ini Sehun menangis, angin yang kencang berubah menjadi angin sepoi-sepoi.
Luhan pun memeluknya, berusaha menenangkannya. D.O yang melihat semua kekacauan
ini pun hampir meledak amarahnya, namun ia tahan selama mungkin agar segalanya
tidak semakin kacau. Chen pun begitu. Akhirnya mereka pun kembali ke dapur
untuk menyiapkan sarapan, di tengah-tengah asap dan air di mana-mana.
Kembali ke halaman, ternyata pertengkaran belum
berakhir.
“Seharusnya kau bisa mengerti aku! Seharusnya kau
terima saja es krim pisang itu!”
“Aku tidak mau! Aku maunya strawberry!”
“Keras kepala sekali kau, Byun baek!”
“Kali ini aku tegas agar kau tidak mengulanginya
lagi. Aku bosan memaafkanmu!” bersamaan dengan itu, cahaya yang besar
menghantam tubuh Chanyeol, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah untuk yang
kedua kalinya.
“Baekhyun-ah…,” Chanyeol akhirnya lelah dengan
semuanya.
“Bangun! Selesaikan sekarang!”
“Hyung…”
“Ya!”
Detik berikutnya hening.
Chanyeol yang tersungkur ke tanah tidak bergerak
sama sekali. Semua tercengang atas segala yang terjadi.
“Chanyeollie…,” Baekhyun nampak merasa bersalah, ia
benar-benar bingung dan panik sekarang.
“Apakah sudah berakhir?” Xiumin yang terengah-engah
karena mendinginkan api-api pun merebahkan diri di tanah.
“Chanyeollie… Bangun! Aku… Aku tidak bermaksud…,”
bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya, “Mi.. Mianhae… Aku… Chanyeollie,
kumohon, bangunlah.. Ya!” Baekhyun mengguncang-guncangkan tubuh Chanyeol, namun
tak ada respon apa-apa.
“Chanyeollie!!”
Semua tercengang, serasa menonton bioskop 3D, tak
ada yang berkutik. Suho yang menyadari semua benar-benar berakhir pun mendekat,
begitu pula dengan Kris dan Luhan, juga Lay.
“Chanyeollie!!” Baekhun kembali mengguncang-guncang
tubuh Chanyeol, “Bangun! Ya! Aku minta maaf.. Aku…”
Tiba-tiba saja tubuh Chanyeol respon bergerak.
“Chan…”
“Maafkan aku, Bakhyunnie…”
“Bodoh! Lagipula mengapa kau lupa kalau aku tidak
suka pisang, itu kan kesukaanmu…”
“Namanya lupa, Hyung…”
“Aku kira kau…”
“Aku tidak apa-apa. Aku lelah. Aku… Aduh!” Chanyeol
memegang perutnya.
“Apa? Kenapa?”
“Perutku sakit…”
“Kenapa? Apa gara-gara… Ah, maafkan aku,
Chanyeollie…” Baekhyun menangis lagi.
“Hyung…”
“Apa? Jangan berkata yang bukan-bukan! Kau bilang
tidak apa-apa tadi…”
“Aku memang tidak apa-apa. Aku…”
“Chanyeollie…”
Semua alien tampan di halaman itu diam terpaku.
Terdengar isak dari tepi halaman, di mana Sehun menangis. Kai yang sedari tadi
hanya menonton, mencoba menenangkan Sehun dengan mengelus bahunya.
“Hyung…”
“Chanyeollie…”
“Hyung… Dengarkan aku.”
“Tidak, aku tidak mau.”
“Hyung!”
“Hmm??”
“Aku lapar.”
Marah, bingung, panik, sedih, senang, galau, semua
perasaan berkecamuk dalam hati Baekhyun hingga reflex ia menampar pipi
Chanyeol.
“Tega kau menamparku, hyung…”
“Kau ini, dongsaeng kurang ajar!”
“Aku serius.. Perutku sakit…”
“Iya, karena kau lapar kan? Suruh siapa sarapan tadi
kau bakar?!”
“Aku tidak sengaja…”
Baekhyun pun berjalan masuk ke dorm, meninggalkan
Chanyeol yang masih tersungkur di tanah.
“Hyung!”
“Bangun sendiri!”
“Hyung…”
“Sudah.. sudah… Bubar!” Suho mengakhiri adegan
dengan wajah ketus, “Tau begini, kulanjutkan nonton TV tadi.”
Semua alien tampan itu pun masuk ke dorm, bertepatan
dengan masuknya mereka, makanan untuk sarapan telah siap di atas meja.
“Kacau begini…,” Kris menggumam melihat sekeliling.
“Yang penting kita bisa makan,” Suho langsung
mengambil makanan.
“Yeah!” Xiumin yang tampak lelah, menemukan kembali
semangatnya setelah menemukan sup kimchi hangat di atas meja.
“Aku minta maaf telah menyebabkan kekacauan ini,”
Chanyeol tertunduk dengan wajah menyesal.
“Aku juga minta maaf,” Baekhyun pun melakukan hal
yang sama.
“Gwaenchana… Semuanya telah berlalu. Kalian, lain
kali bersikaplah dewasa agar tidak merugikan segala pihak seperti ini. Nanti
kita bereskan semuanya bersama. Sekarang makan dulu.”
Semuanya
tersenyum senang.
“Maafkan aku, hyung…,” Chanyeol minta maaf pada
Baekhyun.
“Aku juga,” Chanyeol langsung memeluk Baekhyun
begitu mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
“Ya! Mwo hago isseo?! Lepaskan!”
“Saranghamnida.”
“Chanyeol-ah!”
“Makaaaannn!!!” Suara Xiumin memecah segalanya, menciptakn
gelak tawa yang sempat hilang. Walau asap mengepul di mana-mana dan basah
menyeruak di antar sisa-sisa yang terjadi pagi itu, mereka pun makan dengan
bahagia.
“Hyung!” tiba-tiba saja Kai muncul di antara Suho
dan Kris, membuat keduanya tersedak.
“Mwo?”
“Manajer hyung datang…”
“Apa?!!” Semua tampak kaget sampai terbatuk-batuk.
“Tempat ini… Dormnya…”
AAAAAAAAA!!!!!
_END_